Kamis, 01 Desember 2016


Selasa, 10 November 2015

Jenis - Jenis Virus Komputer Dan Cara Mengatasinya



Jika pada artikel sebelumnya membahas tentang pengertian virus pada komputer, kali ini indra service laptop ingin berbagi informasi tentang jenis-jenis virus komputer dan cara mengatasinya. Hal yang akan dijabarkan yaitu mengenai lokasi virus, cara penyebaran dan cara memberikan proteksi pada sistem operasi kita. Berikut penjelasannya.

  • Trojan
Yaitu jenis virus yang dibuat dengan tujuan untuk mengendalikan dan mencuri data yang ada di dalam komputer. Pada hakikatnya trojan bukan merupakan virus, tetapi karena sifatnya yang dianggap cukup mengganggu, maka orang-orang mengelompokkannya ke dalam golongan virus komputer yang perlu untuk diwaspadai.
Lokasi penyebaran yang utama yaitu akses yang terhubung ke internet, seperti email dan data pribadi yang tidak dipassword.
Untuk mengatasinya yaitu dengan menggunakan antivirus khusus untu trojan, seperti Trojan remover dan Trojan hunter.
  • Worm
Yaitu sebuah program yang bisa menggandakan diri. Pada umumnya worm tidak meninfeksi virus, tetapi hal yang berbahaya yaitu kemampuan untuk melipatgandakan diri yang begitu cepat sehingga apabila  komputer terserang dalam waktu yang cukup lama, bisa menyebabkan kerapuhan pada sistem. Karena data dalam memori dan hardisk menjadi besar. 
Lokasi penyebarannya melalui email dan jaringan internet. Sedangkan untuk mengatasinya bisa menggunakan antivirus iasa. Jika menggunakan antivirus pro malah lebih optimal hasilnya.
  • Memory Resident virus
Yaitu jenis virus yang menginfeksi RAM. Tentu saja lokasinya berada di dalam memori komputer. Virus ini akan aktif apabila sistem operasi dinyalakan. Dengan kode yang dimiliki, virus jenis ini akan mengganggu proses pamanggilan program yang seharusnya berjalan dengan normal. Efek yang ditimbulkan yaitu lemotnya sebuah sistem.
Cara memproteksi yaitu dengan menggunakan antivirus dan lakukan update secara berkala.
  • Web scripting virus
Yakni sebuah kode program komplek yang berfungsi untuk mempercantik konten sebuah website. Nah… Kode inilah yang biasanya dimanfaatkan untuk mengganggu program dengan tujuan tertentu. Contoh : JS. Fortnight
Lokasi terhubung internet, terutama email.
Untuk sistem proteksi bisa dilakukan dengan menginstall Microsoft tool bawaan windows. Lakukan scan secara teratur menggunakan aplikasi ini.
  • Multipartite virus
Adalah jenis virus yang terdiri dari file untuk menginfeksi  sistem operasi tertentu. Lokasi persembunyiannya yaitu di dalam RAM, kemudian akan menginfeksi hardisk pada tahap selanjutnya. Conto : invader, flip dan juga tequila.
Cara mengatasinya yaitu dengan membersihkan adanya bad sector dan lakukan disk defragmenter (jika menggunakan OS windows).
  • FAT virus
FAT merupakan kependekan dari File Allocation Table. Yakni jenis virus yang dibuat dengan tujuan untuk merusak file pada lokasi tertentu. Biasanya bersembunyi di tempat penyimpanan data pribadi. Efek yang ditimbulkan yaitu kemampuan untuk menyembunyikan file penting kita, sehingga sulit dideteksi dan seakan-akan hilang.
Pencegahan : amati dan perhatikan data yang tersimpan di dalam hardisk. Apabila kita mencurigai adanya file yang tidak pernah kita buat untuk disimpan, berarti itu adalah FAT virus.
  • Companion virus
Sebuah virus untuk mengganggu data pribadi. Lokasinya beada di dalam hardisk. Tetapi mempunyaiciri ekstensi yang berbeda.Contoh file kita mempunya ekstensi me.exe, maka virus membuat ekstensi lain me.com.
Lokasi di dalam hardisk, biasanya berkumpul dengan file baru.
Pencegahan : install scan antivirus dan juga download firewall.
  • Polymorpic virus
Adalah jenis virus yang mempunyai kemampuan untuk menyandikan diri dengan cara yang berbeda-beda pada waktu menginfeksi sistem. Contoh : Marburg, tuareg dan elken.
Cara mencegah yaitu dengan menginstall antivirus high end.
  • Directory virus
Adalah jenis virus yang menginifeksi file dengan ekstensi exe atau com, kemudian memindahkannya. Sehingga ketika file tersebut dipanggil untuk dijalankan, maka secara otomatis virus akan beraksi untuk menginfeksi sistem yang lain.
Lokasi berada didalam hardisk dan berpotensi untuk mengganggu semua program. Contoh virus Dir-2.
Penanganan : format dan install ulang semua program dan sistem operasi.
  • Macro virus
Mempunyai kemampuan untuk menginfeksi file makro seperti doc, Xls, Pps dan Mdb. Selain itu virus jenis ini akan menginfeksi email yang berisi dokumen.
Lokasi : melalui email dan jaringan internet.
Cara mengatasi dengan menghindari membuka email yang tidak dikenal dan juga menonaktifkan program makro.
  • Boot sector virus
Adalah jenis virus yang menginfeksi baian terkecil dalam sebuah hardisk yang disebut sektor boot.  Lokasinya bersembunyi di dalam floppy disk. Sehingga ketika sistem berjalan dia bisa berpindah kemama-mana untuk melakukan aksi infeksinya. Contoh : Polyboot.B, Anti EXE.
Cara paling ampuh untuk mengatasinya yaitu dengan memastikan floppy disk pada posisi write protect.
  • Overwrite viruses
Yaitu virus yang mempunyai kemampuan untuk menghapus file atau data yang terinfeksi tanpa mengubah ukuran file tersebut. Sehingga kita tidak akan merasa curiga tentang keberadaannya. Contoh : Way, Trj.Reboot, Trivial.88.D.
Satu-satunya cara untuk mengatasinya yaitu dengan menghapus file yang terinfeksi. 
  • Direct action viruses
Virus yang tugasnya menginfeksi file jenis AUTOXEC BAT. Yang terletak pada direktori hardisk. Jenis ini akan beraksi ketika sistem operasi dijalankan. Jenis virus ini mempunyai kemampuan untuk menginfeksi perangkat eksternal seperti hardisk eksternal dan flashdisk. Contoh Vienna.
Lokasi : umumnya ada di direktori HDD. Tetapi juga mempunyai kemampuan untuk berpindah-pindah.
Cara mengatasinya dengan menginstall scan antivirus.
Demikian penjelasan tentang jenis-jenis virus dan cara mengatasinya. Diharapkan dengan pengetahuan tersebut kita bisa melakukan tindakan yang tepat jika komputer kita terserang oleh virus

Senin, 02 November 2015


PANDAI MENGATUR KEUANGAN
Memasuki dunia pernikahan adalah saat yang sangat membahagiakan. Kamu mulai menjalani hidup bersama sebagai pasangan suami istri dalam menghadapi apapun yang terjadi dalam kehidupan. Saat kamu memulai keluarga kecilmu, ternyata tidak semuanya semudah yang kamu bayangkan, banyak hal yang ternyata harus dipikirkan lebih matang, terutama tentang masalah mengatur keuangan keluarga. Perubahan pola pikir harus mulai dilakukan. Saat ini, uangmu adalah uang bersama, maka itu tidak bisa kamu gunakan seperti layaknya saat kamu masih lajang.
Seberapa besar pun penghasilan kamu, ternyata masih ada saja orang yang kekurangan uang di akhir bulan. Jadi, masalah utamanya bukan terletak pada betapa besarnya penghasilan, tetapi seberapa pandai kamu mengaturnya. Mengatur keuangan terlihat sangat sulit dilakukan, apalagi ketika sudah berkeluarga. Namun semua itu tidak sesulit yang kamu bayangkan. Berikut kami berikan beberapa cara mudah dalam mengatur keuangan keluarga.

1. Pahami Seluruh Aspek Keuangan Keluargamu

Langkah pertama yang harus kamu lakukan agar dapat mengatur keuangan keluarga dengan lebih baik adalah dengan mengetahui berapa banyak uang yang kamu miliki, pendapatan kamu, dan juga mengetahui semua jumlah tagihan yang harus dibayarkan, seperti tagihan listrik, telepon, belanja bulanan, biaya kesehatan, bahkan sampai biaya servis kendaraan. Lalu kamu juga harus selalu mengetahui jumlah hutang kartu kredit, cicilan rumah, atau cicilan kendaraan kamu. Dengan mengetahui semua ini, kamu bisa memperhitungkan kisaran pengeluaran yang harus dikeluarkan.

2. Buat Perencanaan Keuangan

Setelah kamu mengetahui semua sumber pengeluaranmu, sekarang saatnya kamu membuat perencanaan dalam mengatur keuangan kamu. Aturlah semua uang yang kamu punya, kemana uang itu akan digunakan atau berapa banyak yang akan disimpan. Buatlah rencana keuangan yang realistis, jangan terlalu ideal sehingga melupakan kebutuhan diri sendiri. Masukkan dana untuk bersenang-senang sebagai bagian dari rencana keuangan kamu. Setelah kamu bekerja keras, masa kamu tidak mau sedikit menikmatinya?

3. Mulai Menabung Bersama

Sama halnya dengan mengatur keuangan pribadi, menabung sangat mutlak untuk kamu lakukan dalam mengatur keuangan. Dengan memiliki tabungan, kamu dapat lebih merasa lebih aman dan keuangan lebih stabil. Sisihkan sejumlah uang saat kamu baru menerima gaji untuk ditabung, dengan begitu uang yang kamu tabung akan selalu ada. Usahakan untuk tidak menggunakan uang tabungan sebelum itu sangat dibutuhkan. Karena jika tetap dipakai, bukan tabungan dong namanya.          

4. Bedakan Keinginan dan Kebutuhan

Kedua hal ini terlihat sangat mirip, terkadang yang kita inginkan bisa kita buat menjadi kebutuhan kita. Oleh karena itu, kamu harus benar-benar bisa membedakan apa yang memang kamu butuhkan dan apa yang kamu inginkan. Cara mudah yang mungkin bisa kamu gunakan untuk membedakannya adalah dengan membuat daftar antara kebutuhan dan keinginan kamu. Setiap kali kamu memenuhi salah satunya, berilah tanda bahwa kebutuhan atau keinginan kamu sudah tercapai. Usahakan untuk selalu memenuhi kebutuhanmu terlebih dulu, baru setelah itu penuhi keinginanmu.  Tapi ingat, jangan sampai berlebihan ya.

Baca Juga: Keuangan Anda Sehat? Jawab Dulu 5 Pertanyaan Ini

5. Hindari Hutang

Sebisa mungkin, hindarkan dirimu dari yang namanya hutang. Seringkali kita menjadi terbiasa untuk hutang karena menggunakan kartu kredit. Kemudahan proses pembayaran yang diberikan oleh kartu kredit sering membuat orang lupa diri dan menjadi sangat konsumtif. Hal ini sangat buruk dalam pengaturan keuangan kamu. Meski demikian, kartu kredit juga tetap dibutuhkan. Kembali lagi, masalahnya ada di bagaimana kamu mengatur keuangan kamu.

Baca Juga: 6 Cara Melindungi Keuangan Dari Biaya Medis Tak Terduga

6. Tetapkan Target Keuangan Jangka Panjang

Hal ini kamu lakukan agar kamu memiliki cita-cita yang harus kamu capai di masa depan. Misalkan kamu menetapkan bahwa dalam 10 tahun ke depan, kamu sudah harus memiliki uang di tabungan sebesar Rp100 juta, dengan memiliki target, kamu bisa lebih fokus dalam mengatur keuangan dan meminimalisir pemborosan.

7. Mulai Berinvestasi

Sebagai keluarga, kamu harus mulai memikirkan bagaimana kehidupan kamu di masa depan. Mulai pikirkan rencana keuangan kamu dalam jangka panjangnya. Mulai berinvestasi menjadi jawabannya. Terdapat banyak cara untuk berinvestasi, yaitu dalam bermain saham, membeli emas, dan membeli properti. Carilah produk investasi yang sesuai dengan kondisi kantong kamu, tetapi juga pastikan investasimu menguntungkan.

 Baca Juga: 6 Cara Mengelola Keuangan Bagi Pasangan Baru

Ayo Mulai Mengatur Keuangan Keluarga!

Meski mengatur keuangan keluarga pasti akan lebih sulit daripada mengatur keuangan pribadi, tapi yakinlah kamu pasti bisa kalau mau berusaha. Dengan mengikuti cara-cara mudah di atas, kami yakin kamu akan menjadi orang yang pandai dalam mengatur keuangan keluarga. Pastikan keluarga kamu selalu terjaga dan sejahtera dengan cara mengatur keuangan yang baik. Selamat mencoba!

Bingung mencari tabungan terbaik? Bandingkan tabungan terbaik di Cermati


SABAR DAN IKHLAS

Pada umumnya kita semua bisa lebih sabar, disaat kita di uji Allah dengan hal yang menyenagkan, tapi saat kita di uji Allah dengan ujian yang tidak menyenangkan, seperti ujian kesulitan, ujian kehilangan dan atau musibah maka kebanyakan dari kita, akan merasa begitu sulit menerimanya dan sulit untuk bisa sabar.

Ujian kesulitan, ujian kehilangan, kekurangan musibah, penyakit,  kemiskinan, adalah perkara biasa yang dihadapi oleh manusia selama hidup di dunia ini.  Perhatikan firman Allah SWT berikut ini “ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-157).

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 2)

Ketahuilah, sabar akan sangat sulit dilakukan, apabila kita tidak mampu menyadari, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, pada hakikatnya hanyalah ujian. Harta yang kita miliki, karir yang bagus, rumah dan mobil mewah yang kita miliki, anak dan keluarga, itu semua adalah ujian dari Allah dan titipan Allah. Apakah kita bersyukur atau menjadi kufur?

Kita harus memahami dengan sebaik-baiknya bahwa Allah lah pemilik yang sebenar-benarnya atas segala sesuatu apapun yang kita miliki di dunia ini. Dengan menyadari bahwa semua yang kita miliki sebenarnya adalah milik Allah dan titipan Allah, maka begitu Allah mengambilnya dari kita, insya Allah kita akan lebih mudah merelakannya. Karena kita menyadari, bahwa semua itu adalah milik Allah dan titipan Allah.  Dan yang namanya titipan, suatu saat nanti memang pasti akan kembali pada pemiliknya, kapanpun pemiliknya menghendaki apa yang dititipkan kembali atau mau mengambilnya dari kita, maka kita harus dengan rela memberikannya.

Jadi, jangan menjadi stres, terpukul dan merasa kehilangan yang sangat berat, apabila kemarin kita masih punya mobil, sekarang sudah tidak lagi, jangan stres dan bersedih hati apalagi sampai meratapi nasib, apabila bulan kemarin usaha kita masih sukses, sedangkan sekarang kita mengalami kegalalan yang besar.

Karena sesungguhnya dengan adanya musibah, maka seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini:  “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketahuilah dan yakinlah, bahwa sesungguhnya dalam setiap cobaan berat yang Allah SWT berikan untuk kita, maka ada hikmah dan pahala yang besar yang menyertainya. Seperti sabda  Rasulullah SAW, “Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [146]).

Rasulullah SAW  bersabda :  “Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah SWT dalam keadan telah bersih dari dosa (HR. Tirmidzi).

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kita harus rela menerima segala  ketentuan  Allah  dan menyadari bahwa apapun yang terjadi, sudah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita wajib menerima segala ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan. Allah SWT berfirman :  “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid [57] : 22)

Apabila kita ditimpa musibah baik besar maupun kecil, sebaiknya kita mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembal). ini dinamakan dengan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah SWT). Kalimat istirja’ akan lebih sempurna lagi jika ditambah, setelahnya dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW  sebagai berikut :“Ya Allah, berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku dan gantilah musibah itu yang lebih baik bagiku.”  Barangsiapa yang membaca kalimat istirja’ dan berdo’a dengan doa di atas niscaya Allah SWTakan menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih baik. (Hadits riwayat Al Imam Muslim 3/918 dari shahabiyah Ummu Salamah.)

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada anak salah seorang hamba itu meninggal maka Allah bertanya kepada malaikat-Nya, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab, ‘Ya.’ ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hati hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab ‘Ya.’ Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan beristirja’ -membaca innaa lillaahi dst-..’ Maka Allah berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di surga, dan beri nama rumah itu dengan Bait al-Hamd.’.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [1408]).

Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini : “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Setiap amalan akan diketahui pahalanya kecuali kesabaran, karena pahala kesabaran itu, tanpa batas. Sebagaimana firman Allah SWT  “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala  mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan, yang bila kita renungkan dan pahami dengan sebaik-baiknya,  insya Allah bisa membuat kita semua bisa sabar dan ikhlas dalam menghadapi ujian-Nya yang paling berat sekalipun :

  1  Kita harus percaya pada jaminan Allah bahwa : ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al Baqarah [2] : 286).   Allah SWT yang memiliki diri kita, sangat tahu kemampuan kita, jadi tidak akan mungkin Allah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan kita.
  2  Sebenarnya, kita semua pasti mampu untuk bisa sabar dalam segala ujian dan segala keadaan, asalkan kita kuat iman.
  3  Coba kita tanyakan pada diri kita, saat kita ditimpa suatu ujian kesulitan, kesedihan dan atau kehilangan, apa manfaat yang bisa kita ambil kalau kita tidak sabar dan tidak mengikhlaskannya? Apakah dengan ”tidak sabar” dan ”tidak ikhlas” nya kita, maka bisa menghadirkan kenyamanan untuk kita? Atau bisa membuat ujian tersebut tidak jadi datang atau tidak jadi menimpa kita? Sekarang mari kita pikirkan kembali, kita sabar atau tidak sabar, ikhlas atau tidak ikhlas, ujian kesulitan / kesedihan atau musibah tetap terjadi dan menimpa kita kan?  Jadi lebih baik kita terima dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Bila kita bisa sabar dan ikhlas menerimanya, maka insya Allah, tidak akan terasa berat lagi ujian tersebut, percayalah. Dan ingat, dalam sabar, terkandung ridha Allah SWT. Dan ridha Allah SWT terhadap kita, adalah segalanya.
  4  Kita harus selalu baik sangka kepada Allah SWT dan jangan pernah sekalipun meragukan dan mempertanyakan keputusan, ketetapan, pengaturan dan ketentuan Allah.  Kita harus bisa sabar dan ridha terhadap apapun keputusan, ketetapan dan pengaturan-Nya. Kalau kita masih merasa tidak puas dengan semua keputusan, ketetapan, pengaturan dan ketentuan Allah itu, maka cari saja Tuhan selain Allah.  Perhatikan firman-Nya dalam hadits Qudsi : ”Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku. Siapa saja yang tidak sabar menerima cobaan dari-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak ridha dengan ketentuan-Ku, maka bertuhanlah kepada Tuhan selain Aku.” (hadist ini diriwatkan oleh al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir melalui jalur Abu Hind al-Dari)

Karena itu, marilah kita sabar dan ikhlas dalam segala keadaan, yakinlah bahwa janji Allah pasti benar. Percayalah, sabar dan ikhlas, akan membuahkan kebahagiaan hidup.

Siapapun kita, tentu pernah merasakan marah, bahkan mungkin tidak jarang kita merasakan kemarahan dan emosi yang sangat.
Memang sifat marah merupakan tabiat yang tidak mungkin luput dari diri manusia, karena mereka memiliki nafsu yang cenderung ingin selalu dituruti dan enggan untuk diselisihi keinginannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah[1].
Bersamaan dengan itu, sifat marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka, karena dengan kemarahan seseorang bisa menjadi gelap mata sehingga dia bisa melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi diri dan agamanya[2].
Oleh karena itu, hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa, meskipun mereka tidak luput dari sifat marah, akan tetapi kerena mereka selalu berusaha melawan keinginan hawa nafsu, maka mereka pun selalu mampu meredam kemarahan mereka karena Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala memuji mereka dengan sifat ini dalam firman-Nya,
{الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ}
Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134).
Artinya: jika mereka disakiti orang lain yang menyebabkan timbulnya kemarahan dalam diri mereka, maka mereka tidak melakukan sesuatu yang diinginkan oleh watak kemanusiaan mereka (melampiaskan kemarahan), akan tetapi mereka (justru berusaha) menahan kemarahan dalam hati mereka dan bersabar untuk tidak membalas perlakuan orang yang menyakiti mereka[3].

Keutamaan menahan marah dan mengendalikan diri ketika emosi

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ »
Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah[4].
Inilah kekuatan yang terpuji dan mendapat keutamaan dari Allah Ta’ala, yang ini sangat sedikit dimiliki oleh kebanyakan manusia[5].
Imam al-Munawi berkata,“Makna hadits ini: orang kuat (yang sebenarnya) adalah orang yang (mampu) menahan emosinya ketika kemarahannya sedang bergejolak dan dia (mampu) melawan dan menundukkan nafsunya (ketika itu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini membawa makna kekuatan yang lahir kepada kekuatan batin. Dan barangsiapa yang mampu mengendalikan dirinya ketika itu maka sungguh dia telah (mampu) mengalahkan musuhnya yang paling kuat dan paling berbahaya (hawa nafsunya)”[6].
Inilah makna kekuatan yang dicintai oleh Allah Ta’ala yang disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah”[7].
Arti kuat dalam hadits ini adalah kuat dalam keimanan dan kuat dalam berjuang menundukkan hawa nafsunya di jalan Allah U[8].
Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ »
Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya[9].
Imam ath-Thiibi berkata, “(Perbuatan) menahan amarah dipuji (dalam hadist ini) karena menahan amarah berarti menundukkan nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan, oleh karena itu Allah Ta’ala memuji mereka dalam firman-Nya,
{وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ}
Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134)”[10].
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini: “…padahal dia mampu untuk melampiaskannya…”, menunjukkan bahwa menahan kemarahan yang terpuji dalam Islam adalah ketika seseorang mampu melampiaskan kemarahannya dan dia menahnnya karena Allah Ta’ala[11], adapun ketika dia tidak mampu melampiaskannya, misalnya karena takut kepada orang yang membuatnya marah atau karena kelemahannya, dan sebab-sebab lainnya, maka dalam keadaan seperti ini menahan kemarahan tidak terpuji.
Seorang mukmin yang terbiasa mengendalikan hawa nafsunya, maka dalam semua keadaan dia selalu dapat berkata dan bertindak dengan benar, karena ucapan dan perbuatannya tidak dipengaruhi oleh hawa nafsunya.
Inilah arti sikap adil yang dipuji oleh Allah Ta’ala sebagai sikap yang lebih dekat dengan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,
{وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ على أَلاَّ تَعْدِلُوْا اِعْدِلُوْا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى}
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS al-Maaidah:8).
Imam Ibnul Qayyim menukil ucapan seorang ulama salaf yang menafsirkan sikap adil dalam ayat ini, beliau berkata, “Orang yang adil adalah orang yang ketika dia marah maka kemarahannya tidak menjerumuskannya ke dalam kesalahan, dan ketika dia senang maka kesenangannya tidak membuat dia menyimpang dari kebenaran”[12].

Menahan marah adalah kunci segala kebaikan

Dalam sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta nasehat beliau. Orang itu berkata: Berilah wasiat (nasehat) kepadaku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah engkau marah”. Kemudian orang itu mengulang berkali-kali meminta nasehat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menjawab: “Janganlah engkau marah”[13].
Orang ini datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta nasehat yang ringkas dan menghimpun semua sifat baik, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatinya untuk selalu menahan kemarahan. Kemudian orang tersebut mengulang permintaan nasehat berkali-kali dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban yang sama: “Janganlah engkau marah”. Ini semua menunjukkan bahwa melampiaskan kemarahan adalah sumber segala keburukan dan menahannya adalah penghimpun segala kebaikan[14].
Imam Ja’far bin Muhammad berkata: “(Melampiaskan) kemarahan adalah kunci segala keburukan”.
Imam Abdullah bin al-Mubarak al-Marwazi, ketika dikatakan kepada beliau: Sampaikanlah kepada kami (nasehat) yang menghimpun semua akhlak yang baik dalam satu kalimat. Beliau berkata: “(Yaitu) meninggalkan (menahan) kemarahan”.
Demikian pula imam Ahmad bin Hambal dan imam Ishak bin Rahuyah ketika menjelaskan makna akhlak yang baik, mereka berdua mengatakan: “(Yaitu) meninggalkan (menahan) kemarahan”[15].
Maka perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas: “Janganlah engkau marah” berarti perintah untuk melakukan sebab (menahan kemarahan) yang akan melahirkan akhlak yang baik, yaitu: sifat lemah lembut, dermawan, malu, merendahkan diri, sabar, tidak menyakiti orang lain, memaafkan, ramah dan sifat-sifat baik lainnya yang akan muncul ketika seseorang berusaha menahan kemarahannya pada saat timbul sebab-sebab yang memancing kemarahannya[16].

Petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatasi kemarahan ketika muncul pemicunya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memberi petunjuk kepada orang yang sedang marah untuk melakukan sebab-sebab yang bisa meredakan kemarahan dan menahannya dengan izin Allah Ta’ala[17], di antaranya:
  1. Berlindung kepada Allah Ta’ala dari godaan setan
    Dari Sulaiman bin Shurad beliau berkata: “(Ketika) aku sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua orang laki-laki yang sedang (bertengkar dan) saling mencela, salah seorang dari keduanya telah memerah wajahnya dan mengembang urat lehernya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang seandainya dia mengucapkannya maka niscaya akan hilang kemarahan yang dirasakannya. Seandainya dia mengatakan: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”, maka akan hilang kemarahan yang dirasakannya”[18].
  2. Diam (tidak berbicara), agar terhindar dari ucapan-ucapan buruk yang sering timbul ketika orang sedang marah[19].
    Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian marah maka hendaknya dia diam”[20].
  3. Duduk atau berbaring, agar kemarahan tertahan dalam dirinya dan akibat buruknya tidak sampai kepada orang lain[21].
    Dari Abu Dzar al-Gifari bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya dia duduk, kalau kemarahannya belum hilang maka hendaknya dia berbaring”[22].
Di samping itu, yang paling utama dalam hal ini adalah usaha untuk menundukkan dan mengendalikan diri ketika sedang marah, yang ini akan menutup jalan-jalan setan yang ingin menjerumuskan manusia ke dalam jurang keburukan dan kebinasaan[23]. Allah Ta’ala berfirman,
{إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُون}
Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat buruk (semua maksiat) dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS al-Baqarah:169).
Suatu hari, Khalifah yang mulia, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz marah, maka putranya (yang bernama) ‘Abdul Malik berkata kepadanya: Engkau wahai Amirul mukminin, dengan karunia dan keutamaan yang Allah berikan kepadamu, engkau marah seperti ini? Maka ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz berkata: Apakah kamu tidak pernah marah, wahai ‘Abdul Malik? Lalu ‘Abdul Malik menjawab: Tidak ada gunanya bagiku lapangnya perutku (dadaku) kalau tidak aku (gunakan untuk) menahan kemarahanku di dalamnya supaya tidak tampak (sehingga tidak mengakibatkan keburukan)[24].

Marah yang terpuji

Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah marah karena (urusan) diri pribadi beliau, kecuali jika dilanggar batasan syariat Allah, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan marah dengan pelanggaran tersebut karena Allah”[25].
Inilah marah yang terpuji dalam Islam, marah karena Allah Ta’ala, yaitu marah dan tidak ridha ketika perintah dan larangan Allah Ta’ala dilanggar oleh manusia.
Inilah akhlak mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang selalu ridha dengan apa yang Allah ridhai dalam al-Qur’an dan benci/marah dengan apa yang dicela oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an[26].
‘Aisyah berkata: “Sungguh akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur’an”[27]. Dalam riwayat lain ada tambahan: “…Beliau marah/benci terhadap apa yang dibenci dalam al-Qur’an dan ridha dengan apa yang dipuji dalam al-Qur’an”[28].
Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Wajib bagi seorang mukmin untuk menjadikan keinginan nafsunya terbatas pada apa yang dihalalkan oleh Allah baginya, yang ini bisa termasuk niat baik yang akan mendapat ganjaran pahala (dari Allah Ta’ala). Dan wajib baginya untuk menjadikan kemarahannya dalam rangka menolak gangguan dalam agama (yang dirasakan) oleh dirinya atau orang lain, serta dalam rangka menghukum/mencela orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya r, sebagaimana firman-Nya:
{قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرُكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ}
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan kemarahan orang-orang yang beriman” (QS at-Taubah: 14-15)”[29].

Penutup

Demikianlah tulisan ringkas ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan menjadi motivasi untuk selalu berusaha menundukkan hawa nafsu dan menahan kemarahan, agar kita terhindar dari segala keburukan.
Kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia senantiasa menganugerahkan kepada kita petunjuk dan taufik-Nya untuk memiliki sifat-sifat yang baik dan mulia dalam agama-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 28 Jumadal ula 1432 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id

[1] HSR Muslim (no. 2603).
[2] Lihat kitab “Syarhu Riyaadhish shaalihiin” (1/107) dan “Bahjatun naazhiriin” (1/111).
[3] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 148).
[4] HSR al-Bukhari (no. 5763) dan Muslim (no. 2609).
[5] Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” (16/162).
[6] Kitab “Faidhul Qadiir” (5/358).
[7] HSR Muslim (no. 2664).
[8] Lihat kitab “Syarhu Riyaadhish shaalihiin” (1/305) dan “Bahjatun naazhiriin” (1/183).
[9] HR Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.
[10] Dinukil oleh al-‘Azhiim Abadi dalam kitab “’Aunul Ma’buud” (13/95).
[11] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (1/111).
[12] Kitab “ar-Risalatut tabuukiyyah” (hal. 33).
[13] HSR al-Bukhari (no. 5765).
[14] Keterangan imam Ibnu Rajab dalam kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 144).
[15] Semua ucapan di atas dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 145).
[16] Lihat keterangan imam Ibnu Rajab dalam kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 145).
[17] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 146) dan “Bahjatun naazhiriin” (1/112).
[18] HSR al-Bukhari (no. 5764) dan Muslim (no. 2610).
[19] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 146).
[20] HR Ahmad (1/239) dan al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 245), dinyatakan shahih dengan penguatnya oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 1375).
[21] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 146).
[22] HR Abu Dawud (no. 4782), Ahmad (5/152) dan Ibnu Hibban (no. 5688), dinyatakan shahih oleh imam Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.
[23] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (1/112).
[24] Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 146).
[25] HSR al-Bukhari (no. 3367) dan Muslim (no. 2327).
[26] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 148).
[27] HSR Muslim (no. 746).
[28] HR ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 72).
[29] Kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 148).
Ingin berdonasi yang pahalanya jariyah? Mari support pelunasan markaz dakwah Yayasan Pendidikan Islam Al Atsary Yogyakarta. Cek infonya di sini


Tiga Perkara Jadikan Hidup Sempurna



SEBAGAI manusia sering diuji dengan pelbagai cabaran dalam kehidupan seperti sakit, kesusahan hidup dan kematian, ketabahan manusia menghadapi ujian Allah banyak bergantung kepada keimanan seseorang.
Allah SWT berfirman bermaksud, “Kamu sekalian Kami uji dengan keadaan serba ketakutan, lapar dan serba kekurangan, baik mengenai harta, jiwa, mahupun mengenai hasil tanaman, dan buah-buahan, gembiralah orang yang sabar, tidak ditimpa sesuatu musibah, mereka (berserah diri kepada Allah) dengan mengucapkan: kami kepunyaan Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (Al-Baqarah: 156).
Ayat ini jelas menunjukkan kehidupan manusia itu sentiasa diuji dengan pelbagai cubaan. Ujian ini bertujuan melihat kesabaran pada hamba-Nya.
Firman Allah bermaksud, “Hai orang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya takwa.” (Surah Ali Imran:102).
Selanjutnya Allah berfirman bermaksud, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, nescaya Allah memberi kepadanya jalan keluar (dari segala kesukaran) dan diberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Riwayat Surah Ath Thalaq:2-3).
Setiap ujian dan dugaan dalam kehidupan akan mendidik seseorang itu menjadi manusia sejati iaitu beriman, bertakwa, serta meneruskan tujuan hidup mencari keredaan Allah.
Kehidupan jangan tersasar dan mesti mengikut Rasulullah SAW dalam segala bidang. Baik yang berhubung dengan Allah mahupun berhubungan dengan sesama manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah bermaksud, “Tidak ada manusia yang paling mulia di sisi Allah melainkan yang benar-benar takwa kepada Allah.” (Al-Hujarat:13)
Dalam hal kesabaran Nabi SAW mengingatkan dalam sabdanya bermaksud, “Sabar yang sebenarnya pada saat bermula tertimpa musibah.” (Riwayat Al Bukhari).
Sementara Hukamak pernah berkata, “Apabila seseorang itu reda menerima apa-apa yang dikurniakan oleh Allah kepadanya, maka dia akan menjadi orang terkaya di dunia.” Oleh itu, reda dan sabar adalah kekuatan yang ada dalam diri seseorang dalam menghadapi ujian dan musibah.
Seterusnya, Nabi SAW bersabda bermaksud, “Tidak ada suatu rezeki yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya daripada sabar.” (Riwayat Al-Hakim).
Ada pepatah mengatakan kesempurnaan hidup terletak pada tiga perkara, iaitu pandai menahan hati dalam menjunjung agama, sabar ketika ditimpa musibah dan pandai mengatur belanja.
Sementara itu, ahli Tasauf Hassan Basri menyatakan, “Barang siapa tidak ada adab bererti tidak ada ilmu. Barang siapa tidak ada kesabaran, bererti ia tidak ada agama. Barang siapa tidak ada sifat warak, bererti ia tidak dekat dengan Tuhannya.”
Sifat sabar sangat penting dalam kehidupan. Kata-kata ini boleh dijadikan renungan “Sabar terhadap teman yang menyakitkan lebih baik daripada mencacinya. Mencaci adalah lebih daripada memutuskan silaturahim dan memutuskan silaturahim adalah lebih baik daripada berkelahi”.
Dalam kehidupan tidak ada seorang pun yang terlepas daripada kesedihan dan tidak seorang manusia pun yang terhindar daripada kesusahan. Oleh itu, bersabar menghadapi musibah.
Dr Aidh Abdullah Al-Qarni mengatakan, “Setiap musibah yang menimpa dirimu misalnya kesedihan, kesusahan, kelaparan, kemiskinan, penyakit, hutang dan musibah lain, Allah akan memberi pahalanya kepada anda jika anda bersabar.”
Percayalah dunia ini adalah tempat ujian dan cubaan. Semuanya ini adalah ke arah mencari reda Allah. Oleh itu, kita digalakkan meminta pertolongan hanya kepada Allah.
Sebagai ibu bapa, seseorang itu mesti bersabar menghadapi kerenah anak yang sedang membesar. Semua kebahagiaan terletak pada kesabaran ibu bapa yang menentukan sama ada bahagia atau sebaliknya dalam rumah tangga.
Dalam kehidupan, kita tidak berjaya mendapatkan apa yang kita sukai, melainkan kita bersabar pada perkara yang kita tidak senangi.
Sesungguhnya, sifat sabar dapat memaafkan kesalahan orang lain dan juga tabah menjadikan hati tenang, fikiran dan perasaan sanggup menahan penderitaan dihadapi dalam kehidupan penuh pancaroba.

Tafsir al-Jalalayn

Tafsir al-Jalalayn is one of the most significant tafsirs for the study of the Qur’an. Composed by the two “Jalals” -- Jalal al-Din al-Mahalli (d. 864 ah / 1459 ce) and his pupil Jalal al-Din al-Suyuti (d. 911 ah / 1505 ce), Tafsir al-Jalalayn is generally regarded as one of the most easily accessible works of Qur’anic exegesis because of its simple style and one volume length. For the first time ever Tafsir al-Jalalayn is competently translated into an unabridged highly accurate and readable annotated English translation by Doctor. Feras Hamza.
تفسير الجلالين
يعتبر تفسير الجلالين من أهم كتب التفسير لدراسة القران الكريم. لقد ألفه جلال الدين المحلي (توفي 864 هـ \ 1459 م) وتلميذه جلال الدين السيوطي (توفي 911 هـ \ 1505 م) اللذَيْن لقّبا بالجلالين. ويعتبر تفسير الجلالين من أسهل التفاسير قراءةً لأسلوبه المبسط وطوله في مجلد واحد. فلأول مرة في التاريخ ترجم تفسير الجلالين إلى ترجمة إنكليزية غير مختصرة على يد د. فراس حمزة وهي ترجمة دقيقة وسهلة القراءة ومزودة بالهوامش.
About the Translator

Doctor. Feras Hamza, D.Phil. obtained his doctorate from the University of Oxford (Wolfson College) and is presently Research Associate in Qur’anic Studies at the Institute of Ismaili Studies, London. He is presently at work on a translation of Al-Baydāwī’s Tafsir and a monograph on the Birth of the Muslim Afterlife.
عن المترجم
د. فراس حمزة – حصل على الدكتوراه من جامعة أكسفورد (كلية ولفسون) وهو أستاذ بحوث في الدراسات القرآنية في المعهد الإسماعيلي في لندن. حاليا يقوم بترجمة تفسير البيضاوي إلى الإنكليزية ويعد للنشر كتابا حول موضوع "الآخرة في الإسلام".
       To enter Tafsir al-Jalalayn Click here للدخول الى تفسير الجلالين اضغط هنا


Assalamualaikum Wr.Wb.

Al-Quran adalah Kalamullah (firman Allah -Subhanahu Wa Ta'ala-), merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- dengan perantara Malaikat Jibril. Di dalam surah Muzzammil ayat 5, Allah berfirman:
"... dan bacalah olehmu Al-Quran ini dengan pelan/tartil (bertajwid)."
Hukum orang yang mempelajari Ilmu Tajwid adalah Fardhu Kifayah. Dan hukum mengamalkannya adalah Fardhu Ain. Dan umat Islam yang dapat membaca Al-Quran, wajib hukumnya belajar Tajwid, supaya terpelihara huruf, makhraj, ghunnah, dan Mad-nya.
Mari kita belajar dan tidak bosan membaca dan menggali isi Al-Quran, serta mengamalkannya.
"... dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan'." (QS. Thaahaa: 114).

Selasa, 30 Juni 2015



PENGARUH KEGIATAN DAKWAH  KEAGAMAAN TERHADAP SIKAP SPIRITUAL SISWA
DI MTS TARBIYATUL MUTA’ALIMIN PAGADEN
A.    Analisis  Masalah

       Untuk mencapai tujuan yang dapat merubah sikap spiritual siswa, hendaklah guru memilih kegiatan yang dapat memotivasi perubahan sikap spiritual peserta didik tersebut, salah satunya melakukan kegiatan yang bisa meningkatkan sikap spiritual siswa yaitu dakwah keagamaan islam. Dakwah ini bisa di ambil beberapa teori yang di kemukakan oleh para ahli bahwa  Menurut Abdul Basit (2013: 45) Dakwah merupakan memanggil, mengundang, berdoa, memohon mengajak kepada sesuatu kebaikan, mengubah dengan perkataan, perbuatan dan amal. Begitulah teori yang di kemukakan oleh abdul basit. Adapun  menurut   syaikh Ali Mahfudz  di dalam buku nya   Abdul Basit ( 2013 : 44)  yang berjudul  Filasafat  Dakwah mengatakan Dakwah ialah untuk mendorong melaksanakan kebaikan dan mengikuti petunjuk serta memerintah  berbuat  ma’ruf  dan  mencegah dari perbuatan munkar agar mereka memperolah kebahagian di dunia dan di akhirat.
Telah di jelaskan bahwa dakwah merupakan kegiatan yang bisa merubah kepada sikap spiritiual individu adapun Menurut Calhoun, (1978: 315) Sikap merupakan kecenderungan pola tingkah laku individu untuk berbuat sesuatu dengan cara tertentu terhadap orang, benda atau gagasan. Sikap dapat diartikan sekelompok keyakinan dan perasaan yang melekat tentang objek tertentu dan kecenderungan untuk bertindak terhadap objek tersebut dengan cara tertentu.

Dari teori yang di kemukakan di atas tersebut bahwa kegiatan Dakwah itu dapat memunculkan sikap spiritual anak didik.
        Sebagaimana  yang di ungkapkan oleh Abdul Basit  (2013  : 57)  Bahwa untuk  mengembalikan  perilaku  manusia agar  kembali kepada fitrohnya yang  beriman  kepada  Allah  dan  berprilaku  baik ,  maka  mengadakan  kegiatan  dakwah  keagamaan islam dan  di sampaikan kepada umat.”
Adapun dalil tentang dakwah Keagamaan islam yaitu:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3]: 104)
Peneliti telah membaca di sebuah situs terkemuka yaitu wikipedia bahwa Dakwahmerupakan salah satu bagian dari orasi, pidato, kultum, bahkan puisi merupakan bagian dari orasi, tetapi saat ini kata orasi mengalami penyempitan makna dan terkesan bermakna peyorasi, orasi dikenal di kalangan umum sebagai bentuk ungkapan melalui verbal yang disampaikan pada khalayak umum dan memiliki sifat persuasif.
Dakwah yang bertujuan untuk memberikan nasehat dan petunjuk-petunjuk, sementara ada audiensi yang bertindak sebagai pendengar. Dengan melihat kepada pengertian diatas, Dakwahdapat diartikan sebagai bentuk dari dakwah yaitu dakwah bil-kalam yang berarti menyampaikan ajaran-ajaran, nasehat, mengajak seseorang dengan melalui lisan
         Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata sikap dan memahaminya karena ia menjadi bagian dari kalimat atau ulasan yang kita pahami secara keseluruhan. Namun tidak demikian bila kita membahas sikap sebagai suatu konsep dalam psikologi sosial.
Sikap adalah konsep yang dibentuk oleh tiga komponen, yaitu kognitif, afektif, dan prilaku. Komponen kognitif berisi semua pemikiran serta ide-ide yang berkenaan dengan objek sikap. Isi pemikiran seseorang meliputi hal-hal yang berkenaan dengan objek sikap. Isi pemikiran seseorang meliputi hal-hal yang diketahuinya sekitar objek sikap, dapat berupa tanggapan atau keyakinan, kesan, atribusi dan penilaian tentang objek sikap tadi. Komponen afektif dari sikap meliputi perasaan atau emosi seseorang terhadap objek sikap. adanya komponen afeksi dari sikap, dapat diketahui melalui perasaan suka atau tidak suka, senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Isi perasaan atau emosi pada penilaian seseorang terhadap objek sikap inilah yang mewarnai sikap menjadi suatu dorongan atau kekuatan/daya. Komponen perilaku dapat diketahui melalui respons subjek yang berkenaan dengan objek sikap. Respons yang dimaksud dapat berupa tindakan atau perbuatan yang dapat diamati dan dapat berupa intense atau niat untuk melakukan perbuatan tertentu sehubungan dengan objek sikap. Intense merupakan predisposisi atau kesiapan untuk bertindak terhadap objek sikap. Jika orang mengenali dan memiliki pengetahuan yang luas tentang objek sikap yang disertai dengan perasaan positif mengenai kognisinya, maka ia akan cenderung mendekati (approach) objek sikap tersebut,.
Peneliti telah observasi Di Mts Tarbiyatul Muta’alimin pagaden bahwa terdapat kegiatan Dakwah secara rutin yang di lakukan pada hari jum'at setiap pagi hari, kegiatan ini berlangsung dengan baik dengan di kumpulkannya anak -  anak dari kelas Sepuluh hingga kelas Dua Belas pada pagi hari sekitar jam 07.00 WIB. Namun setelah peneliti melihat kegiatan Dakwahsecara rutin, penliti tidak sengaja melihat anak didik yang menjalankan ibadah tidak tepat pada waktunya, dengan bukti bahwa pada jam 11.55 adalah waktu dimana melakukan shalat dzuhur, yaitu shalat pada waktu yang tepat, namun ada sebagian anak didik yang tidak melakukan shalat jam tersebut, anak tersebut malah memilih shalat di rumah saja, yang kenyataanya sampai rumah jam 02.00 WIB. bila di lihat dari sikap yang dia lakukan, kejadian ini terjadi di karnakan sikap spiritual yang kurang baik, anak didik yang tidak memiliki spiritual yang tinggi akan melalaikan beragai ibadah, salah satunya ibadah shalat.
Peneliti telah observasi Di Mts Tarbiyatul Muta’alimin pagaden bahwa terdapat kegiatan ceramah secara rutin yang di lakukan pada hari jum'at setiap pagi hari, kegiatan ini berlangsung dengan baik dengan di kumpulkannya anak -  anak dari kelas Sepuluh hingga kelas Dua Belas pada pagi hari sekitar jam 07.00 WIB. Namun setelah peneliti melihat kegiatan ceramah secara rutin, penliti tidak sengaja melihat anak didik yang menjalankan ibadah tidak tepat pada waktunya, dengan bukti bahwa pada jam 11.55 adalah waktu dimana melakukan shalat dzuhur, yaitu shalat pada waktu yang tepat, namun ada sebagian anak didik yang tidak melakukan shalat jam tersebut, anak tersebut malah memilih shalat di rumah saja, yang kenyataanya sampai rumah jam 02.00 WIB. bila di lihat dari sikap yang dia lakukan, kejadian ini terjadi di karnakan sikap spiritual yang kurang baik, anak didik yang tidak memiliki spiritual yang tinggi akan melalaikan beragai ibadah, salah satunya ibadah shalat.
             Dari pemaparan di atas, maka penulis mengangkat judul :
“ Pengaruh Kegiatan Ceramah Keagaman Islam terhadap Sikap Baik Anak Didik
B.   Fokus Penelitian
Pada penelian ini fokus masalahnya sebagai berikut:
Fariabel X  : Kegiatan Ceramah Keagamaan Islam
 Fariabel Y  : Sikap Baik Anak Didik

C.   Grand Teory
Suatu tujuan seharusnya memiliki indicator – indicator yang akan membuat semua kegiatan itu akan terarah dan lebih baik.
        Menurut Abdul Basit mengungkapkan Rumusan tujuan seharunya bersifat dinamis dan progresif  yang akan menghasilkan suatu  Indikator, indikator dakwah yaitu : Tabligh (penyampaian), Taghyir (Perubahan, Internalisasi dan pengembangan), Uswah (Keteladanan). Dan Manurut Dadang JSN  (15/06 : 2015) indikator sikap spiritual mencakup yaitu, Berdoa sebelum dan sesudah menjalankan sesuatu, Menjalankan ibadah tepat waktu, Memberi salam pada saat awal dan akhir presentasi sesuai agama yang dianut. Bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa;

Kegiatan Ceramah
Keagamaan
Sikap Spiritual Siswa
1)      Tabligh (Penyampaian)
2)      Taghyir (perubahan, internalisasi dan pengembangan)
3)      Uswah (keteladanan)
4)    Presuasi (memengaruhi)


( Dr. Abdul Basit, M Ag 2013 : 50  )

1)      Berdoa  sebelum dan sesudah menjalankan sesuatu.
2)      Menjalankan ibadah tepat waktu.
3)      Memberi salam pada saat awal dan akhir presentasi sesuai agama yang dianut.
4)      Bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa;
(Dadang JSN 15/06 : 2015)
Responden
Pengaruh